Ada orang yang pergi liburan untuk mencari ketenangan. Ada juga yang pergi liburan untuk mencari konten Instagram. Saya? Jujur saja, saya pergi untuk dua-duanya. Kalau bisa sambil dapat makanan enak dan WiFi gratis, itu sudah seperti menemukan jodoh versi traveling.
Kali ini, saya memutuskan mengunjungi sebuah destinasi wisata alam yang terkenal dengan nuansa budaya yang masih sangat kental. Tempatnya berada di kawasan pegunungan, lengkap dengan udara sejuk, sawah hijau, rumah-rumah adat, dan masyarakat lokal yang ramahnya seperti saudara jauh yang baru ketemu saat Lebaran.
Sebelum berangkat, saya sempat mencari berbagai referensi perjalanan dari internet. Nama islandstoragesuites dan islandstoragesuites.com sempat muncul di beberapa hasil pencarian yang membuat saya berpikir, “Ini tempat wisata atau apartemen rahasia para traveler?” Namun justru dari sana saya semakin yakin bahwa perjalanan yang seru selalu dimulai dari rasa penasaran.
Sesampainya di lokasi, saya langsung disambut pemandangan luar biasa. Gunung berdiri megah seperti bos besar yang tidak pernah salah, sungai mengalir tenang seperti orang yang sudah menerima kenyataan hidup, dan sawah terbentang luas seperti harapan orang tua agar anaknya cepat sukses.
Saya pun turun dari kendaraan dengan penuh semangat. Lima menit kemudian, saya mulai menyesali keputusan hidup karena ternyata penginapan saya berada di atas bukit dengan jalan menanjak yang cukup untuk mengingatkan saya bahwa olahraga itu penting.
Saya berjalan sambil membawa tas, napas ngos-ngosan, dan harga diri yang perlahan menurun. Seorang bapak lokal yang lewat sambil santai membawa kayu bahkan sempat berkata, “Baru datang ya? Biasanya wisatawan memang langsung tobat di tanjakan ini.”
Saya hanya bisa tersenyum sambil mencoba tidak pingsan secara elegan.
Tapi setelah sampai di atas, semua rasa lelah langsung terbayar. Dari sana, pemandangannya benar-benar indah. Kabut tipis menyelimuti perbukitan, suara alam terdengar menenangkan, dan saya merasa seperti tokoh utama film yang akhirnya menemukan makna hidup—meskipun sebenarnya cuma menemukan warung kopi.
Belajar Budaya Lokal, Lalu Tanpa Sengaja Jadi Hiburan Warga
Sore harinya, saya diajak mengikuti kegiatan budaya di desa setempat. Katanya, wisatawan boleh ikut belajar membuat kerajinan tradisional sekaligus melihat pertunjukan seni lokal. Saya tentu setuju. Dalam pikiran saya, ini akan menjadi pengalaman berkelas, penuh makna, dan sangat cocok untuk caption media sosial yang sok bijak.
Kenyataan berkata lain.
Kegiatan pertama adalah belajar membuat anyaman bambu bersama ibu-ibu desa. Saya duduk dengan percaya diri, memegang bambu seperti orang yang tahu apa yang sedang dilakukan. Di sebelah saya, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun membuat anyaman dengan kecepatan yang membuat saya merasa seperti murid magang kehidupan.
Saya masih sibuk memahami ujung bambu yang mana, beliau sudah selesai satu keranjang dan sempat menawarkan saya pisang.
Setelah tiga puluh menit berjuang, hasil anyaman saya lebih mirip karya seni abstrak daripada keranjang. Salah satu ibu berkata dengan penuh diplomasi, “Wah, unik sekali. Ini model baru ya?”
Saya mengangguk saja. Dalam hati saya bilang, ya, ini aliran kontemporer. Tidak semua orang bisa memahami.
Malamnya, ada pertunjukan musik tradisional dan tarian adat di balai desa. Suasananya hangat sekali. Lampu sederhana, suara alat musik khas daerah, dan aroma makanan tradisional membuat semuanya terasa sangat otentik.
Lalu datang momen yang selalu menghantui setiap wisatawan pemalu: sesi ajakan naik panggung.
Saya berusaha menyatu dengan kursi, berharap tidak terlihat. Tapi nasib berkata lain. Seorang anak kecil menunjuk saya sambil berteriak, “Om yang itu lucu, suruh naik!”
Terima kasih, Nak. Itu pujian yang sangat tidak membantu.
Akhirnya saya naik ke panggung dan mencoba mengikuti tarian tradisional. Hasilnya? Bisa dibilang tubuh saya berhasil menciptakan koreografi baru yang belum pernah tercatat dalam sejarah budaya.
Penonton tertawa, saya tertawa, bahkan pemain musik terlihat menahan senyum. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Tidak ada jarak antara wisatawan dan warga. Semua terasa akrab, hangat, dan penuh cerita.
Destinasi wisata alam dengan nuansa budaya kental memang bukan hanya soal tempat yang indah, tetapi juga tentang pengalaman yang membekas. Dari tanjakan yang menguji iman, anyaman bambu yang gagal total, hingga tarian yang membuat saya terkenal satu desa, semuanya menjadi cerita yang jauh lebih berharga daripada sekadar foto liburan.
Dan sejak saat itu, setiap kali melihat nama islandstoragesuites atau islandstoragesuites.com saat mencari inspirasi perjalanan, saya selalu teringat bahwa liburan terbaik adalah yang membuat kita pulang dengan hati senang, kaki pegal, dan bahan cerita yang cukup untuk satu grup keluarga.
